JEJAK NII

Posted: January 10, 2012 in Sejarah
Tags: , , ,

Jejak-jejak NII (1)

Dulu Berjasa, Sekarang Diperalat Intelijen?

Rabu, 04 Mei 2011

Hidayatullah.com—Beberapa minggu ini, media didominasi pemberitaan seputar isu ‘pencucian otak’ dan Negara Islam Indonesia (NII). Dampaknya luar biasa, berbagai pihak langsung alergi terhadap simbol-simbol Islam. Tak hanya itu, beberapa pengelola perguruan tinggi sudah ada yang mengeluarkan larangan lembaga dakwah di kampus.  Alhasil, NII yang semula dilahirkan pendirinya sebagai sebuah cita-cita luhur untuk menerapkan syariat Islam, kini, tiba-tiba berbalik menjadi isu menakutkan; merampok, mencuri, dan hal-hal berbau teror. Ada apa sebenarnya? mengapa NII yang dulu berjasa menjaga teritorial wilayah Jawa Barat kiniberimej buruk? Siapa NII yang asli, dan siapa yang hanya menumpang? Wartawanhidayatullah.comAkbar Muzakki secara khusus melakukan riset pustaka selama beberapa hari. Inilah hasilnya;

***

Sebagai akibat ditandatanganinya persetujuan Renville 17 Pebruari 1948 oleh pemerintah RI (Kabinet Amir Sjarifuddin) dengan pemerintah Belanda,  maka pasukan militer RI harus ditarik dari kantong-kantong yang dikuasai Belanda.

Ketika pemerintahan RI diminta untuk hijrah ke Jogjakarta sebagaimana hasil perjanjian Renville. Maka ibukota negara RI pun berpindah ke Jogjakarta.

Sedangakan aparat keamanan dalam hal ini Tentara Republik Indonesia (TRI ) harus meninggalkan ibukota termasuk Divisi Siliwangi yang diandalkan pun hijrah ke Jogjakarta.

Meski TNI Devisi Siliwangi kala itu harus ditarik mundur dari Jawa Barat yang dikuasai Belanda dan hijrah ke Jawa Tengah yang dikuasai RI, pasukan gerilya seperti Hizbullah dan Sabilillah yang beroperasi di Jawa Barat tidak mau ikut hijrah ke Jawa Tengah. Sikap ini diambil karena dua pasukan pembela umat itu tidak setuju dengan Perjanjian Renville. Selain itu, pasukan ini tak ingin ada kekosongan wilayah.

AH Nasution dalam bukunya “Memenuhi Panggilan Tugas” menceritakan perjalanan melewati bukit-bukit dan lereng-lereng untuk bisa menuju ke Jogjakarta. Sementara di Jogja dibentuk panitia hijrah untuk penyambutan TRI yang diketuai Menteri Arudji Kartawinata.

Dalam perjalanan perjuangan tersebut AH Nasution juga meminta para ajengan Pak Embes (sebutan ulama di Jawa Barat) untuk bisa memberikan doa dan meminta agar Ajengan juga ikutserta dalam rombongan. Namun Ajengan tak mau. Bahkan AH Nasution meninggalkan beberapa pucuk senjata untuk keamanan mereka kelak. Ternyata benar, kampung tersebut diobrak-abrik Belanda.

Jawa Barat ahirnya kosong dari Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan tidak ada kekuatan pertahanan yang menjaga wilayah RI. Berdasarkan Perjanjian Renville, wilayah itu memang harus dikosongkan dari militer. Presiden dan Wapres bahkan telah pindah ke Jogjakarta, sementara teritorial militer juga harus dikosongkan.

Ketika kekosongan itu terjadi, SM Kartosoewirjo, yang kala itu sebagai komandan pejuang Hizbullah dan komondan pejuang Sabilillah tidak mau ikut serta meninggalkan teritorial tersebut.

Kemudian mereka melakukan pertemuan pada 10-11 Pebruari 1948 di desa Pangwedusan distrik Cicayong dihadiri pemimpin-peminpin Hizbullah, Gearakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), dan Sabilillah.Sebagaimana disebutkan dalam buku “Peta Sejarah Perjuangan Politik Umat Islam di Indonesia” karya Abdul Qadir Djaelani, dalam pertemuan tersebut membuat keputusan terpenting adalah membekukan Masyumi di Jawa Barat, membentuk Majelis Islam atau Majelis Umat Islam dan mendirikan Tentara Islam Indonesia (TII). Ketua Majelis Islam dipimpin langsung oleh SM Kartosoewiryo, Sekretaris oleh Supradja dan Bendahara dipegang oleh Sanusi Partawidjaja. Sedangkan bidang penerangan dan kehakiman masing.-masing oleh Toha Arsjad dan Abdulkudus Gozali Tusi. Adapun tugas Majelis Islam adalah melanjutkan dan memimpin perang gerilya melawan Belanda di daerah-daerah yang telah dilepaskan/hijrah TNI ke Jawa Tengah.

Sejak itulah Tentara Islam Indonesia (TII) berjuang keras menahan kehadiran tentara Belanda yang akan menguasai Jawa Barat. Pergerakan perjuangan TII dengan tentara Belanda pun akhirnya tak terelakkan.

Aksi militer Belanda kedua 19 Desember 1948, selain tertawannya Soekarno-Hatta melahirkan berdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)  dengan presidennya Sjafruddin Prawiranegara di Padang mempunyai akibat-akibat lainnya.

TNI Divisi Siliwangi yang selama itu hijrah ke Jawa Tengah terpaksa harus kembali ke pangkalan asal di Jawa Barat. Sesampainya di Jawa Barat disambut oleh pamflet-pamflet yang dikeluarkan oleh Majelis Islam agar TNI bergabung dengan TII. Tetapi seruan itu ditolak oleh Siliwangi. Oleh karena itu Majelis Islam dengan TII-nya menganggap TNI Siliwangi sebagai ‘pasukan pengacau dan pembrontak’ yang memasuki wilayah kekuasaannya.

Insiden penting terjadi setelah itu 25 Januari 1949 di Antralina dekat Malangbong Garut. Sebagian staf Brigade XIV dalam perjalanan pulang ke Jawa Barat, sempat terpisah dari pasukan yang mengawal mereka; dan sesampainyadi Antralina mereka ditangkap oleh kedua pihak (Siliwangi dan TII) sebagai hari dimulainya perang segitiga pertama di Indonesia antara TNI Siliwangi, TII, dan Belanda.

Dengan melihat aksi polisional Belanda kedua yang disebut agresi militer kedua dan gagalnya perjanjian Roem Royen yang memperburuk situasi politik dan keamanan RI dan masih ada usaha untuk mempertahankan RI untuk berdaulat.

Situasi di Jawa barat semakin rumit karena 4 kekuatan militer antara TII, TNI, KNIL, dan militer Pasundan saling bertempur. Akhirnya KNIL Belanda undur diri dari pertempuran setelah adanya persetujuan Roem Royen. Sedangkan militer Pasundan bergabung dengan TNI.

Ketika PDRI dan TNI kemudian menerima Roem Royen, Kartosoewiryo tetap menolaknya dan mendorong diproklamasikannya Negara Islam Indonesia (NII) pada 7 Agustus 1949 di desa Cisampang-Cigayong, Garut Jawa Barat. NII juga dikenal dengan sebutan  Darul Islam (DI) yang kemudian disingkat DI/TII.

Selain karena rasa kecewa terhadap negara yang dinilai semakin sekuler, Kartosoewiryo merasa kecewa dengan Perjanjian Renville karena Soekarno terlalu tunduk pada Belanda.

Al Chaidar, dalam buku “Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia (NII) SM Kartosoewirjo”mengatakan, meski kala itu perdebatan ideologi Islam masih belum final, Kartosowirjo berusaha menerjemahkan nilai-nilai al-Quran ke dalam bentuk-bentuk praktek birokrasi dan hukum negara.

“Mungkin jika ada yang mempraktekkan nilai-nilai keislaman, dia itu adalah Kartosoewirjo dan pejuang mujahidin sejati dalam Darul Islam, sementara umumnya masyarakat hanya mempraktekkan nilai-nilai ritual ibadah dan secara terbatas (bersifat individu) mempraktekkan syariah, “ tulisnya.

Hanya saja, kata Al Chaidar, pendirian NII –yang awalnya merupakan perjuangan suci karena sebuah cita-cita luhur yang diilhami ajaran Islam– kemudian,  dimanipulasi sebagai “pemberontakan”.

Sumber: http://hidayatullah.com/read/16791/04/05/2011/dulu-berjasa,-sekarang-diperalat-intelijen?-.html

(10 Desember 2011)

 

 

 

 

Dulu Berjasa, Sekarang Diperalat Intelijen? (2)

Selasa, 10 Mei 2011

/tulisan kedua/  /tulisan pertama/

Aneh yang dikenalkan sisi pemberontakannya

Hidayatullah.com–SEMENJAK ditandatanganinya “Perjanjian Renville” antara Pemerintahan RI dengan Penjajah Belanda, di mana salah satu kesepakatannya adalah berupa gencatan senajata dan pengakuan garis “Demarkasi Van Mook”, maka ini telah menjadi pil pahit bagi Indonesia, termasuk bagi Kartosoewirjo yang telah lama merasa berdarah-darah.

Perjanjian yang mewajibkan Pemerintah Indonesia menarik semua pasukannya dan mengakui beberapa wilayah yang dikuasi Belanda dinilai Kartosoewirjo sebagai sikap ‘tunduk’ pada penjajah kafir.

Ketika semua pasukan harus menarik diri dan pindah ke Jawa Tengah, sebagai konsekwensi Perjanjian Renville, Kartosoewirjo justru bersikap sebaliknya. Bersama Hizbullah dan Sabilillah –keduanya adalah salah satu sayap mujahidin dan kesatuan santri pembela tanah air— dan lebih memilih tetap tinggal untuk meneruskan perlawanan terhadap penjajah (Belanda).

Kekecewaan terhadap Perjanjian Renville ini bahkan sempat membuat Kartosoewirjo menyebut Amir Sjafroedin sebagai seorang ‘laknatoellah’ (yang dilaknat Allah) dan penghianat yang telah ‘menjual’ Jawa Barat serta sikap lemah Soekarno.

Sebagai sikap tegas penolakan Renville, maka 10 Januari 1948 bertemulah perwakilan para pejuang (mujahidin) yang mewakili sekitar 160 sayap organisasi Islam. Mereka adalah sayap santri yang telah menyerahkan tenaga, pikiran dan nyawanya untuk membela negara melawan penjajah kafir. Hadir beberapa komandan teritorial penting. Di antaranya; Sanusi Partawidjaja, Ketua Masyumi Daerah Priangan, Raden Oni, pemimpin Sabilillah Priangan, Dahlan Lukman, Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Siti Murtaji’ah, Ketua GPII Puteri, Abdulullah Ridwan, sebagai Ketua Hizbullah Priangan dan Ketua Masyumi Cabang Garut, Saefullah.

Mereka bertemu di desa Pangwedusan distrik Cicayong untuk membentuk Majelis Islam atau Majelis Umat Islam dan akhirnya mendirikan Tentara Islam Indonesia (TII). Ketua Majelis Islam dipimpin oleh SM Kartosoewiryo, Sekretaris oleh Supradja dan Bendahara dipegang oleh Sanusi Partawidjaja. Sedangkan bidang penerangan dan kehakiman masing.-masing oleh Toha Arsjad dan Abdulkudus Gozali Tusi. Adapun tugas Majelis Islam adalah melanjutkan dan memimpin perang gerilya melawan Belanda di daerah-daerah yang telah dilepaskan/hijrah TNI ke Jawa Tengah.

Sejak itulah Tentara Islam Indonesia (TII) berjuang keras menahan kehadiran tentara Belanda yang akan menguasai Jawa Barat.

Dalam buku “Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo”, karangan Al Chaidar (1999) disebutkan, ide pendirian TII ini murni karena sikap rasa juang para santri yang sesunnguhnya tidak mau tunduk pada tentara penjajah, akibat sikap ‘lemah’ pemerintah RI  yang mudah tunduk pada penjajah.

Sebagaimana dikutip Al Chaidar, tercatat ucapan penting Kamran, salah satu peserta pertemuan ini ingin agar Perjanjian Renville dibatalkan.

”Kalau pemerintah RI tidak sanggup membatalkan Renville, lebih baik pemerintah kita ini kita bubarkan dan membentuk lagi pemerintahan baru dengan tjorak baru. Di Eropa dua aliran sedang berdjuang dan besar kemungkinan akan terjadi perang dunia III, ja’ni aliran Rusia lawan Amerika. Kalau kita di sini mengikuti Rusia kita akan digempur Amerika, begitu djuga sebaliknja. Dari itu kita harus mendirikan negara baru, ja’ni Negara Islam. Timbulnya Negara Islam ini,jang akan menyelamatkan Negara.” (“Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo”, Al Chaidar, 1999)

Jelas sekali jika awal gagasan pendirian NII ingin menyelamatkan negara. Seperti diketahui, semanjak Indonesia dalam wilayah jajahan, banyak sayap-sayap milisi pejuang lahir untuk membela Negara. Apalagi karena Indonesia mayoritas Muslim, hampir semua organisasi Islam memiliki sayap militer. Sebagai bentuk bela Negara ini, ulama bahkan banyak berperan ambil bagian penting mensupport masyarakat melawan penjajah kafir hingga ke desa-desa.

Dalam buku “API Sejarah 2” (2010), karya Ahmad Mansur Suryanegara disebutkan,  saat terjadinya protes sosial di Pesantren Sukamanah 18 Februari 1944 yang melahirkan resolusi politik dalam bentuk ‘jihad fi sabilillah’ yang dipimpin para ulama untuk menuntut Indonesia  Merdeka berdasarkan Islam.

Peran para mujahid (pejuang Islam) dalam membela kemerdekaan ini tak bisa dianggap kecil. Ahmad Mansur Suryanegara mengutip perbedaan kekuatan massa partai politik Islam Masyumi yang memiliki sayap militer bernama Laskar Hizbullah dan Laskar Fi Sabilillah.   

“Nampaknya, Soetan Sjahrir baru menyadari realitas kekuatan Partai politik Islam Indonesia, Masyumi. Memiliki massa pendukung partai yang konkrit dan sangat besar serta memiliki Laskar Hizbullah danBarisan Sabilillah yang sangat kuat. Kebesaran massa politik Islam Masyumi pada massa itu, dapat diukur dengan perbandingan massanya satu kabupaten saja, sama dengan massa partai non Islam lainnya untuk seluruh Indonesia.”

Umumnya para pejuang kemerdekaan adalah dimotori ulama dan para santri. Wajar jika besar harapan mereka Indonesia menjadi Negara Islam. Jadi ide dan gagasan seperti ini  sebenarnya bukan semata ada pada diri Kartosoewirjo. Bahkan ide seperti ini makin tajam taktala penentuan  Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar  1945.

Prof Dr Soepomo sempat menyampaikan pendapatnya soal ini:

“Memang di sini terlihat ada dua paham, ialah paham dari anggota-anggota ahli agama yang menganjurkan supaya Indonesia didirikan sebagai  Negara Islam. Dan anjuran lain, sebagai telah dianjurkan Tuan Mohammad Hatta ialah negara persatuan nasional yang semisalnya urusan agama dan urusan Islam dengan perkataan lain, bukan Negara Islam.” (API Sejarah 2, 2010).

Lagi pula adalah hal yang wajar jika saat itu ada keinginan pendirian Negara Islam. Sebab, menurut Ahmad Masnyur Suryanegara, sebelum pendudukan tentara Jepang,  Nusantara Indonesia telah berdiri sekitar 40 Kesultanan Islam.

Tapi entahlah, mengapa dalam sejarah belakangan, kiprah para mujahidin dan pejuang kemerdekaan itu lebih ditonjolkan (tepatnya lebih diperkenalkan ke masyarakat) dari sisi pemberontakannya?  Dan mengapa pula di wilayah Nusantara yang dikenal memiliki banyak kesultanan Islam ini masyarakat sering ‘ditakut-takuti’ meski hanya untuk menyebut kata “Negara Islam”?*

Rep: Akbar Muzakki
Red: Panji Islam

Sumber: http://hidayatullah.com/read/16895/10/05/2011/dulu-berjasa,-sekarang-diperalat-intelijen?-(2).html

(10 Desember 2011)

BARAT DAN ISLAM

Posted: January 10, 2012 in Umum
Tags: ,

BARAT DAN ISLAM:

DIBUTUHKAN PENGHARGAAN TANPA DISKRIMINASI

Selasa, 10 Januari 2012

HAMPIR tiap hari kita mendengar analisis, ungkapan, kesimpulan, persepsi-persepsi dari ilmuwan, cendekiawan dan politikus Barat tentang Islam. Dari kacamata Barat, diingkari atau tidak, citra Islam terasosiasi tidak baik. Jarang, ada seseorang yang mampu menggambarkan dialektika dunia Barat dan dunia Islam, tanpa terjebak di lubang prasangka, curiga, sinisme, atau kebencian. Inilah stigma terhadap Islam.

Subhanallah. Tidak seperti yang lain, seorang politikus dari partai CDU (Kristen-Demokrat) yang pernah 18 tahun duduk di parlemen Jerman, Jürgen Todenhöfer, tiba-tiba telah membaca al-Quran. Juga tidak seperti yang lain, ia telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya pada banyak perjalanan di dunia islam: Iraq, Iran, Libya, Sudan sampai Afghanistan.

Setelah membaca, mengamati dan berpikir, Todenhöfer akhirnya menulis. Hasilnya sebuah buku berjudul, “Feindbild Islam – Zehn Thesen gegen Hass” (Potret Buruk Islam – Sepuluh Tesis Anti Kebencian”), yang terbit di akhir tahun 2011.

Barat Lebih “Brutal“ daripada Dunia Islam 

Todenhöfer, dalam tesis pertama, mengingatkan fakta sejarah yang sering terlupa di dua abad terakhir. Menurutnya, Barat justru jauh lebih brutal daripada dunia Muslim. Jutaan warga sipil Arab tewas sejak kolonialisme dimulai. Atas nama kolonialisasi, Prancis pernah membunuh lebih dari dua juta penduduk sipil di Aljazair, dalam kurun waktu 130 tahun. Atas nama kolonialisasi, Italia pernah menggunakan phosphor dan gas mustard untuk menghabisi penduduk sipil di Libya. Atas nama kolonialisasi, Spanyol juga pernah menggunakan senajata kimia di Marokko.

Tidak berbeda di era setelah perang dunia kedua. Dalam invansi perang Teluk kedua, semenjak tahun 2003, UNICEF menyebutkan, 1,5 juta penduduk sipil Iraq terbunuh. Sepertiganya anak-anak. Tidak sedikit dari korban terkontaminasi amunisi uranium. Di Baghdad, hampir setiap rumah kehilangan satu anggota keluarganya.

Sebaliknya, di dua abad terakhir, tidak satu pun negara Islam menyerang, mengintervensi, mengkolonialisasi Barat. Perbandingan jumlah korban mati (dunia Islam: dunia Barat) adalah 10:1. Problema besar dunia, di dua abad belakangan ini, bukan kebrutalan Islam, tapi kebrutalan beberapa negara-negara Barat.

Promosikan Anti-Terorisme, Melahirkan Terorisme

Terorisme jelas tidak dibenarkan. Menilik secara objektif, terorisme justru lahir dari politik anti-terorisme Barat yang keliru. “Seorang pemuda Muslim,” tulis Todenhöfer, “yang secara rutin memantau berita di televisi, hari demi hari, tahun demi tahun, akan situasi di Iraq, Afghanistan, Pakistan, Palestina dan di tempat lain, di mana perempuan, anak-anak dan penduduk sipil, dihabisi oleh Barat dengan brutal, justru diprovokasi untuk menjadi seorang teroris.”

Beruntung saja, sebagian besar pemuda Islam tidak terpancing. Mereka memilih jalan yang berbeda. Di Tunisia, Mesir, Libya, Maroko, dan negara-negara Muslim lainnya, mereka menjawab ketidak-adilan yang menimpa mereka melalui jalan demokrasi dan teriakan kebebasan, bukan teror dan kekerasan.

Terorisme Fenomena Dunia, Bukan Fenomena Islam

Ada pemeo favorit di setiap diskursi bertemakan terorisme. “Tidak setiap Muslim teroris, tapi seluruh teroris adalah Muslim.” Selain jauh dari benar, dengan data dan fakta, propaganda ini mudah dipatahkan.

Data resmi Badan Kepolisian Eropa, Europol, menyebutkan: Dari 249 aksi teror di tahun 2010, hanya tiga yang pelakunya berlatar belakang Islam. Bukan 200, bukan 100 – tapi tiga! Data di tahun-tahun sebelumnya, juga tidak kalah mengejutkan: Dari 294 aksi terror di tahun 2009, hanya satu yang berlatar belakang Islam. Hanya satu dari 515 aksi teror di tahun 2008. Hanya empat dari 583 di tahun 2007.

Di hadapan hukum internasional, dunia Barat selalu mentematisir, dan merekam dengan baik, 3500 korban terorisme yang pernah jatuh atas nama “teror-Islam“ semenjak pertengahan 1990-an (termasuk korban WTC, pada 11/9). Tapi mengapa ratusan-ribu warga sipil yang terbunuh dalam intervensi di Iraq tidak pernah ditematisir?

Lebih jauh, Todenhöfer bertanya kritis: “Mengapa elite Barat, tidak pernah sekalipun menimbang; membawa George W. Bush dan Tony Blair ke hadapan mahkamah internasional, atas serangan sepihaknya ke Iraq? Apakah hukum internasional hanya berlaku untuk orang-orang non-Barat?“

Perang, bukan jawaban untuk aksi-aksi terorisme. Perang, hanya manis untuk mereka yang tidak mengenalnya. Teroris yang membunuh orang-orang tidak berdosa, bukanlah pejuang kebebasan, bukan pahlawan, bukan pula syuhada. Mereka mengkhianati agama mereka. Mereka adalah pembunuh.

Bukan Muslim, yang atas nama kolonialisasi membunuh 50 juta nyawa di seantero Afrika dan Asia. Bukan Muslim, yang atas nama perang dunia pertama dan kedua menghabiskan 70 juta nyawa. Bukan pula Muslim, yang menggencarkan genosida terhadap 6 juta orang-orang Yahudi.

Permasalahan besar dalam perdebatan al-Quran di Barat, adalah setiap orang bernafsu membicarakannya, sangat-sangat sedikit yang pernah membacanya.

Sebagian besar mereka tidak lagi rasional dan ilmiah. Hanya mengutip beberapa tekstual yang mengesankan Islam pro “perang” tanpa pernah mau tahu konteksnya. Padahal pesan-pesan al-Quran yang dikesankan seperti itu, spesifik diterima Muhammad, dalam konteks perlawanan antara penduduk Makkah dan Madinah, waktu itu.

Seperti Musa dan Isa, Muhammad tidak dilahirkan pada situasi dunia yang sedang vakum, apalagi damai. Mereka hadir pada saat moralitas dunia bobrok, penuh perang, perjuangan dan perlawanan. Adalah sangat lumrah beberapa tekstual yang terkesan pro “perang” itu bisa ditemukan di al-Quran, semudah bisa ditemukan di kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru.

Secara semantis, diksi “Islam-teroris”, “Kristen-teroris” atau “Yahudi-teroris” adalah sebuah penyesatan bahasa. Terorisme, menurut Todenhöfer, berdiri di atas instrumen setan, tidak boleh dikaitkan dengan kesucian Tuhan dan keagamaan.
Memang benar, di dalam Islam, Kristen, atau Yahudi ada ideologi yang bersinggungan dengan kekerasan- tapi bukan ajaran agamanya.

Fakta atau fake?

Kalimat andalan kritikus anti-Islam di Barat adalah ”Siapa yang menginginkan panggilan adzan terdengar di kota-kota kami, harus membiarkan juga lonceng gereja berbunyi di kota-kota mereka!” 

Padahal nyatanya: Di Teheran, semisal, berdiri banyak gereja. Loncengnya berbunyi tidak jarang, dan tidak pelan. Lebih jauh, anak-anak Kristen memiliki pelajaran agamanya sendiri (sesuatu yang luxus untuk anak-anak Muslim di Barat).

Barat megidentifikasi jilbab sebagai simbol pengekangan dan ketertindasan. Dari survey resmi di Barat, wanita-wanita  pemakai jilbab, yang begitu dipedulikan Barat itu, justru berkata lain (memakainya atas kesadaran pribadi). Sinisme jilbab, sebagian besar justru datang dari mereka yang tidak berjilbab dan anti-jilbab. Memaksa seseorang berjilbab, jelas menyalahi hak asasi. Tidak jauh berbeda, dari prosesi pemaksaan untuk melepasnya.

Barat menuduh perempuan-perempuan Islam tidak berpendidikan. Fakta dari dunia Islam menjawab lain. Secara statistis, perempuan di negara-negara mayoritas Islam, justru lebih berpendidikan dibanding Barat: 30% Profesor di Mesir perempuan, padahal di Jerman jumlahnya hanya sekitar 20%.

Lebih dari 60% mahasiswa di Iran adalah perempuan. Di Uni Emirat Arab, sudah semenjak tahun 2007, mahasiswa perempuan menginjak angka yang sulit dipercaya: 77%.

Seorang Muslim = Seorang Yahudi = Seorang Kristen

Tidak ada seorang bayi pun terlahir sebagai seorang “teroris”. Barat harus memperlakukan seorang Muslim, persis seperti seperti mereka memperlakukan seorang Kristen atau Yahudi.

Tidak jarang kita dengar politikus dan aktivis Barat, demonstratif, mengumbar kalimat penuh kebencian terhadap Islam. Frank Graham, penasehat George W. Bush, menyebut Islam sebagai “agama iblis dan sihir”. Politikus kanan Belanda, Geert Wilders, menyebut Islam sebagai “agama fasis”. Thilo Sarrazin, politikus Jerman memberikan thesis: “secara genetis, anak-anak dari keluarga Islam, dilahirkan di bawah tingkat kecerdasan rata-rata.”

Bayangkan sejenak, jika Frank Graham, Greet Wilders, dan Thilo Sarrazin mengganti objek tesis-nya bukan kepada “Islam”, tetapi menjadi “Yahudi” atau “Kristen”. Tidakkah ucapan seperti itu akan menjadi badai kemarahan yang dahsyat? Mengapa Barat boleh mengatakan hal-hal penuh fasistik dan rassist terhadap Islam, yang justru di kalangan orang-orang Kristen dan Yahudi sesuatu yang tabu? Barat harus mengakhiri demonisasi Islam dan Muslim.

Muslim Melawan Teror

Di tesis kesembilan, Todenhöfer mengajak umat Islam, melalui sebuah reformasi sosial, menjejak Nabi Muhammad yang berjuang untuk sebuah Islam yang beradab dan toleran. Untuk tatanan ekonomi dan politik yang dinamis, bukan statis – sambil mempertahankan identitas keagamaannya. Untuk persamaan yang penuh, pria dan wanita. Untuk kebebasan beragama yang nyata.

Tidak seperti politikus umumnya, Muhammad, bukan seorang reaksioner. Dia adalah seorang revolusioner, berani berpikir dan berani mematahkan belenggu tradisi. Islam di masa Muhammad bukanlah agama stagnan, apalagi regresif, tetapi pembaruan dan perubahan. Muhammad berjuang untuk perubahan sosial, ia pahlawan orang miskin dan orang lemah. Dia mengangkat hak-hak kaum perempuan, yang di periode sebelumnya nyaris tidak ada.

Muhammad bukan seorang fanatik atau seorang ekstrimis. Dia hanya ingin membawa orang-orang Arab, yang kala itu terjebak pada belenggu politeistik, untuk kembali ke sumber aslinya yang murni, agama Ibrahim, persis seperti yang disuarakan Musa dan Isa.

Terorisme, yang berada di sekelumit dunia Islam pada hari ini adalah distorsi ajaran Muhammad. Dunia Islam tidak boleh membiarkan citra baik Islam, yang dibangun Muhammad 14 abad yang lalu, dihancurkan seketika oleh ideologi kriminal ini. Dunia Islam perlu memerangi ideologi terorisme ini, persis seperti Muhammad memerangi berhala-berhala dari periode pra-Islam.

Politik Bukan Perang

Kalimat bijak pernah mengajarkan: “ketika kamu tidak bisa menaklukan musuhmu, peluk dia!.”

Masalah kompleks di Timur tengah, hanya bisa diselesaikan dengan jalur politik, bukan dengan perang. Barat harus membuka pintu diskusi yang lebih lebar untuk dunia Islam. Barat harus membuka ruang bilateral dan unilateral lebih besar untuk negara-negara Arab. Kesatuan dan stabilitas yang perah terjadi di Uni Eropa, nyatanya, tidak berdiri di atas invansi senjata, tapi di atas politik diplomatisasi yang penuh visi.

Barat dan Dunia Islam perlu menjalin kesamaan visi: sebuah dunia, yang setiap negara di dalamnya dihargai. Sebuah penghargaan, yang tanpa diskriminasi. Politik anti-diskriminasi, yang dibangun di atas keadilan dan kebebasan, bukan perang, apalagi penindasan.*/Sultan Haidar Shamlan

Resensi buku

Judul: Jürgen Todenhöfer. 2011. Feindbild Islam – Zehn Thesen gegen Hass (Potret Buruk Islam – Sepuluh Tesis Anti Kebencian“),.

 

Source:

http://hidayatullah.com/read/20597/10/01/2012/barat-dan-islam:–dibutuhkan-penghargaan-tanpa-diskriminasi.html  (10 Januari 2011)


Source:

http://hidayatullah.com/read/20597/10/01/2012/barat-dan-islam:–dibutuhkan-penghargaan-tanpa-diskriminasi.html  (10 Januari 2011)

TOTALITAS PENYUCIAN DIRI (II)

Posted: November 19, 2011 in HIKMAH
Tags:

Menuju Totalitas Penyucian Diri [2]

Sabtu, 19 November 2011

Oleh: Shalih Hasyim

Ketiga: Tazkiyatul Mal (penyucian harta)

Karunia harta yang terbaik adalah ketika berada di tangan laki-laki yang shalih. Ia berpandangan, sekalipun hartanya habis di jalan Allah SWT bukanlah dikategorikan mubadzir. Sedangkan, sedikit saja yang di belanjakan di luar jalan-Nya termasuk mubadzir. Dan sikap mubadzir adalah sekutunya syetan.

Orang beriman memandang bahwa dirinya adalah hamba Allah SWT dan khalifah-Nya di muka bumi ini. Ia bukan hamba jabatan, hamba prestise, hamba mayoritas, hamba minoritas, hamba sain dan teknologi, hamba berhala yang abstrak dan kongkrit, hamba hawa nafsu perut, di bawah perut, hamba dinar dan dirham. Karena semua itu hanya makhluk (ciptaan) belaka.

Bahkan dunia dan seisinya diciptakan sebagai wasilah (sarana) untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Bukan ghoyah (tujuan akhir). Jika ia dititipi kekuasaan digunakan untuk membela yang zhalim, bukan membela si zhalim. Berani membela kebenaran, bukan membela yang membayar (suap). Jika diamanahi ilmu digunakan untuk mencerahkan yang bodoh, bukan membodohinya. Jika dititipi harta dimaksimalkan untuk memberi makan yang sedang kelaparan (muth’imul ji’an).

Justru, harta yang menjadi milik kita adalah modal untuk menuju ridha-Nya. Maka harta yang kita miliki kita sedekahkan. Yang tersisa itu yang kita makan dan kita warislkan. Sedikit sekali. Yang menjadi milik kita yang kita berikan kepada Allah SWT. Karena kita yakin harta yang kita infakkan akan tumbuh dan berkembang dalam kebaikan (barakah). Seorang mukmin lebih sabar dalam kondisi kekurangan, kelaparan daripada menahan jilatan api neraka. Maka, ia berhati-hati dalam mengelola amanah harta. Harta hanya sebagai hak guna, bukan hak milik. Ia menjaga diri dari harta yang syubhat apalagi yang haram. Ia menjauhi segala bentuk praktek riba klasik ataupun riba kontemporer.

Karakter orang yang sumber kehidupannya berasal dari riba, selalu susah sekalipun bunganya bertambah. Dia tidak merasakan kenikmatan di dalam jiwa karena pijakan kehidupannya menghisap darah orang lain. Tertawa di tengah-tengah penderitaan sesama. Ia bagaikan orang yang resah karena ditampar syetan. Jika yang berhutang tidak lancar pembayarannya, ia ingin merampas harta bendanya sebagai jaminan. Bertambah kasar budi pekertinya. Sekalipun ia menampakkan muka yang berseri-seri agar mudah dibayar, tetapi hakikatnya untuk menindas orang lain dengan mengeruk keuntungan yang berlipat-ganda.

Sebaliknya, Allah SWT menyuburkan sedekah. Dia ingin mempertautkan kasih-sayang antara yang memberi dan menerima. Ia yakin dengan memberi akan memperoleh balasan yang berlipat di luar teori dan prinsip-prinsip ekonomi. Bertolak dari sini, terbentuklah masyarakat yang saling berkasih-sayang, saling berwasiat dalam menetapi kebenaran dan kesabaran, bahu-membahu, doa-mendoakan. Orang kaya menjadi dermawan, orang miskin pandai menjaga kehormatan dirinya (‘iffah).

“Barangsiapa yang bersedekah senilai sebutir kurma dari usaha yang halal, dan Allah hanya menerima yang baik-baik, maka Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya bagi pelakunya, sebagaimana salah seorang di antara kamu memelihara anak kuda, hingga sebutir kurma itu menjadi sebesar gunung.” (HR. Bukhari).

Keempat: Tazkiyatus Sulthan (penyucian kekuasaan, posisi dan jabatan)

Islam tidak mempersoalkan kekuasaan yang kita genggam, kekayaan yang melimpah dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Tetapi, Islam menggedor pikiran dan kalbu kita benarkah yang menjadi hak kepemilikan kita menambah kebaikan dalam kehidupan kita (barakah) ?. Yang dilarang adalah mencemari kekuasaan, harta, ilmu untuk membangun egoism (ananiyah), hubbusy syahawat.

Menyucikan kekuasaan berarti mendahulukan kepentingan orang banyak diatas kepentingan diri sendiri. Menyucikan harta berarti menghilangkan kelaparan, kehausan, tidur tidak nyeyak, dan menghindari terbukanya aurat (karena tidak memiliki pakaian) yang dialami sesama. Harta dibelanjakan untuk membuat kaum dhu’afa dan mustadh’afin tersenyum. Menyucikan ilmu berarti menjadikannya sarana untuk memberantas kebodohan.

Ali bin Abi Thalib, ketika ia menjabat sebagai khalifah, ia membagikan harta Baitul Mal hanya kepada yang berhak. Pernah, Aqil saudaranya memohon lebih dari haknya karena anak-anaknya sedang menderita. Kata Ali, Datanglah nanti malam, engkau akan aku beri sesuatu.

Malam itu Aqil datang. Lalu Ali berkata, Hanya ini saja untukmu. Aqil menjulurkan tangannya untuk menerima pembelian Ali. Tiba-tiba ia menjerit, meraung seperti sapi yang dibantai. Rupanya ia memegang besi yang menyala. Dengan tenang Ali berkata, itu besi yang dibakar di dunia. Bagaimana kelak aku dan engkau dibelenggu dengan rantai neraka.

Umar bin Abdul Aziz yang dikenal oleh sejarah sebagai khalifah yang kelima, juga memilih pola kehidupan seperti para pendahulunya. Negara yang dikelolanya benar-benar surplus, sampai utang-utang pribadi dan biaya pernikahan ditanggung oleh negara. Indikator kemakmuran yang tidak akan pernah terulang kembali. Para amil zakat berkeliling ke perkampungan Afrika, tetapi tidak menemukan seorangpun yang menerima zakat. Ketika cucu Umar bin Khatahab itu dilantik menjadi khalifah atas desakan rakyat, beliau menangis di rumahnya dan mengatakan kepada semua anggota keluarganya bahwa kita akan mendapatkan musibah besar. “Jika Anda mendukung kami masuk surga, maka mulai saat ini kita harus siap lapar.” Dalam sejarah dicatat, beliau hanya dua kali mandi junub selama dua tahun masa kepemimpinannya. Beliau juga menolak untuk tinggal di istana. Bertolak dari kesederhanaan pola hidup, mengantarkannya berhasil mengadakan transformasi social secara total di negara. Sekalipun beliau adalah merupakan bagian dari masa kebobrokan Bani Umaiyah.

Inilah tazkiyatus sultan – penyucian kekuasaan dari pencemaran kepentingan-kepentingan pribadi, keluarga, kelompok dan golongan. Dan Ali bin Abi Thalib sebagai penguasa memilih hidup sangat sederhana daripada memanfaatkan kekuasaan untuk membangun satus qua dan memperkaya diri.*

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Sumber:

http://hidayatullah.com/read/19850/19/11/2011/menuju-totalitas-penyucian-diri-[2].html

TOTALITAS PENYUCIAN DIRI (I)

Posted: November 19, 2011 in HIKMAH
Tags:

Menuju Totalitas Penyucian Diri [1]

Rabu, 16 November 2011

oleh: Shalih Hasyim

TARGET inti seluruh rangkaian ibadah kepada Allah SWT baik ibadah fardhu agar terbangun kedekatan dengan-Nya (taqarrub) dan ibadah sunnah agar terbangun kecintaan dengan-Nya secara timbal balik (mahabbah) adalah tazkiyatun nafs (membersihkan jiwa). Syahadat membersihkan pikiran dan hati dari kerusakan kepercayaan, kotoran syirik, kufur, nifaq, fasiq. Sedang shalat membersihkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Puasa membersihkan diri kita dari tarikan hawa nafsu perut, nafsu kelamin dan nafsu panca indra. Zakat membersihkan harta pemilik harta dan kekayaannya dari perangai buruk dan campuran barang yang syubhat dan haram. Haji membersihkan pikiran, hati, dan anggota badan secara keseluruhan untuk menuju dan fokus serta all out untuk Allah SWT (tawajjuh dan tajarrud).

Rasulullah SAW sendiri dibangkitkan untuk meluruskan pikiran yang jumud (beku) dan bengkok dengan dibacakan ayat-ayat-Nya, membersihan hati dari kontaminasi lingkungan social yang didominasi hukmul jahiliyah, dhannul jahiliyah, hamiyyatul jahiliyah, tabarrujul jahiliyah, da’wal jahiliyah, serta diajarkan kitab, sunnah dan hikmah. Agar bangkit dari kesesatan dan kehinaan.

Syeikh Hasyim Asy’ari mengutip pendapat sebagian ulama:

التَوْحِيْدُ يُوْجِبُ الاِيْماَنَ فَمَنْ لاَ اِيْماَنَ لَهُ لاَ تَوْحِيْدَ لَهُ , وَالاِيْماَنُ يُوْجِبُ الشَرِيْعَةَ فَمَنْ لاَ شَرِيْعَةَ لَهُ لاَ اِيْماَنَ لَهُ وَلاَ تَوْحِيْدَ لَهُ
الشَرِيْعَةُ يُوْجِبُ الأَدَبَ فَمَنْ لاَ أَدَبَ لَهُ
لاَ شَرِيْعَةَ لَهُ وَلاَ اِيْماَنَ لَهُ وَلاَ تَوْحِيْدَ لَه

“Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid, dan iman mewajibkan keterikatan yang kuat untuk menegakkan syariat (al Iltizam bi asy Syari’at), maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid, dan syariat mewajibkan adanya adab, maka barangsiapa yang tidak beradab maka (pada hakekatnya) tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.” (Hasyim Asy’ari, adabul ‘Alim wal-Muta’allim, Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H). hal. 11)..

Ibadah yang tidak melahirkan perubahan menuju kemuliaan adab sama jeleknya dengan amal yang tidak dilandasi oleh iman. Itiqad dan amal, aqidah dan syariah, ruhani dan jasmani, tidak bisa dipisah-pisahkan untuk selama-lamanya. Laksana dua sayap burung. Karena, Allah SWT tidak melihat performen kita, tetapi menilai amal shalih dan kemurnian hati kita. Hati yang jernih dari kekeruhan motivasi adalah modal utama untuk bertemu dengan Allah SWT.

Selama satu bulan Ramadhan lalu kita dilatih untuk berusaha membersihkan diri kita, kalbu kita dari niat yang buruk, dendam, benci, serakah, sombong, iri hati dan virus ruhani yang lain, membersihkan kehormatan kita dari maksiat. Dan pada akhir bulan kita diperintahkan mensucikan harta kita dari kontaminasi haram, syubhat dengan mengeluarkan zakat fitrah. Jadi, puasa adalah latihan spiritual (riyadhah, mujahadah) penyucian diri, proses tazkiyatun nafs.

Demikian pentingnya tashfiyatu wa tazkiyatun nafs, maka tidak ada peluang yang paling berharga dalam kehidupan ini melebihi dari membuka ruang yang seluas-luasnya untuk pemberdayaan struktur ruhani kita. Dengan cara demikian, akan membuka kesadaran dan pencerahan baru.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams (91) : 9-10)

Ada empat bidang garap “tazkiyah” (pembersihan) yang dijadikan prioritas oleh Rasulullah SAW. Dan proyek immaterial tersebut yang berhasil digulirkan dengan gemilang dalam waktu kurang dari ½ abad.

PertamaTazkiyatun Nafs (penyucian diri)

Dahulu, bangsa Arab adalah bangsa yang kotor. Kepercayaan kepada Allah SWT dicemari dengan pemujaan kepada berhala dan benda-benda alam. Ekonomi masyarakatnya telah dikotori dengan penindasan yang kuat (the have) terhadap yang lemah (grass root), kesewenang-wenangan yang kaya dan berada terhadap yang tidak beruntung, dan keserakahan yang berharta kepada yang melarat. Kebudayaan mereka dinistai dengan kerendahan akhlak penghinaan wanita.

Peradilan mereka adalah peradilan rimba – yang kuat selalu benar dan kebal hukum, yang lemah selalu salah. Hukum mereka bagaikan gegraji. Tumpul untuk kalangan elitis dan tajam untuk kaum dhu’afa.

Lahirlah manusia yang terbelah jiwanya. Di masjid rajin berdoa. Keluar dari masjid ia tidak segan-segan melakukan perbuatan yang kontradiktif dengan isi doanya. Ibadah ritual seolah-olah tidak berefek pada keshalihan social. Itulah kehidupan yang skuler.

Kemudian, Allah SWT membangkitkan Muhammad bin Abdullah. Ia sendiri manusia pilihan, paling suci (al Musthofa). Bisa dipercaya (al Amin). Ia dilahirkan dari keluarga terhormat. Keluarga yang shalih, pengurus, pemelihara dan penjaga Baitul ‘Atiq – rumah Allah yang suci. Kepada masyarakat jahiliyah yang kotor beliau meniupkan angin kesucian. Ia mengajak dan memanggil bangsanya untuk mengingat kembali nama Allah yang selama ini sudah disebut-sebut dan memuji-Nya dengan makna dan spirit baru. Berbeda dengan “Allah” yang dipahami oleh masyarakat jahiliyah selama ini.

Sedikit demi sedikit, satu demi satu, thobaqon ‘an thobaq (secara gradual) berubahlah bangsa Arab. Mereka memilih kesucian sekalipun beresiko bergelimang dengan darah atau kehilangan nyawa. Lihatlah Sumayyah, misalnya, bersama suaminya Yasir dan anaknya ‘Ammar. Sumayyah memeluk Islam. Ia bersihkan akidahnya dari kemusyrikan. Ia dianiaya, dipukuli, dipanaskan di tengah padang pasir yang membakar.

وَكاَنَتْ عَجُوْزا كَبيرةَ ضَعيْفَةَ

“Padahal Sumayyah wanita tua yang renta dan lemah (kanat ‘ajuzah kabirah dha’ifah).”

Sumayyah bertahan memilih hidup yang suci dan terhormat. Abu Jahal datang dengan tombak di tangan. Ia memaksa Sumayyah mengucapkan kata-kata kufur dan kotor. Ketika itu Rasulullah SAW mengutus sahabat untuk menyampaikan berita kepada Sumayyah. Rasulullah SAW yang mulia – melihat penderitaan Sumayyah dalam mempertahankan keimanan yang suci – merestuinya untuk mengucapkan kalimat yang kotor (kufur), asal hati tetap beriman. Apakah jawaban yang keluar dari mulut Sumayyah?

اَبْلغُو ا عَنيَ رَسُوْلَ الله السلاَمُ ان سَمَيَة التي طهر الله قَلْبها لاَ تَسْتَطيعً أنْ تَلُوْثَ لساَنَها بكَلمة الْكُفْر

“Sampaikan salamku kepada Rasulullah SAW. Sesungguhnya Sumayyah yang telah Allah sucikan hatinya dengan iman, tidak akan sanggup mengotori lidahnya dengan kata-kata kufur.”

Abu Jahal marah. Ia menusukkan tombaknya ke rahim Sumayyah.Jadilah Sumayyah orang yang pertama kali syahid dalam sejarah Islam. Inilah Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa).

KeduaTazkiyatu Farj (penyucian moral)

Buraidah ra. dalam kitab “Taysirul Wushul juz 2 hal 7-8 – dalam hadits yang diriwayatkan muslim dan Abu Dawud – menceritakan peristiwa lain. Seorang wanita datang menjumpai Rasulullah SAW. Ia meminta Rasulullah SAW menghukumnya dengan hukuman mati (rajam). Rasulullah SAW menolaknya dan menyuruhnya datang keesokan harinya.

Esoknya ia datang lagi, meyakinkan beliau bahwa ia telah hamil. Rasulullah SAW memintanya pulang sampai ia melahirkan anaknya. Setelah melahirkan, ia datang lagi dengan bayi merah yang dibungkus kain. Rasul masih menolaknya. “Pulanglah, susukan anakmu sampai engkau sapih.” Setelah sekian lama, ia datang lagi dengan bayi dan sekerat roti. Ia merasa bersalah, dan ingin kembali kepada Allah SWT dalam keadaan tidak membawa dosa. Ia yakin dengan menjalankan hukum rajam untuk dirinya, akan membersihkan dosanya di dunia. Dosa kecil bisa dihapus dengan amal shalih. Dosa berbuat zhalim, mengembalikan hak yang terzhalimi. Dosa besar hanya bisa ditebus dengan hudud dan taubatan nashuha.

هدا ياَ رَسُوْلَ الله قَدْ فَطَمْتُهُ وَ قَدْ أَكَلَ الطَعَامَ

“Ini, ya Rasulullah, sudah aku sapih dan ia sudah bisa mengunyah makanan.”

Nabi SAW menyuruh seorang sahabat melawat anak wanita itu. Ia menetapkan hukuman rajam (badan dikubur separoh dan setiap orang yang lewat melemparinya hingga wafat). Ketika darahnya membersit dan mengenai wajah Khalid. Khalid memaki wanita itu. Rasulullah SAW murka kepadanya dan membela wanita yang sudah menyerahkan diri terhadap hukum Allah, dalam sabdanya.

يا خاَلدُ فَوَ الدي نَفْسي بيَده لَقد تاَبَ تَوْبَة لَوْ تاَ بَها صاحب مكْس لَغَفَرَ لَهُمهلاَ

“Celaka engkau, Khalid. Demi zat yang diriku ada di tangan-Nya. Wanita ini telah bertaubat dengan suatu taubat – (taubat yang begitu suci) – sehingga kalau ada pendosa besar bertaubat dengan taubatnya Allah akan mengampuni dosanya.”

Wanita dari suku Ghamidiyah ini tidak kuat hidup dengan berlumpur dosa. Ia memilih menyucikan dirinya dengan minta hukum rajam. Ia memilih kembali ke jalan Allah SWT (bertaubat). Ia meninggal dalam keadaan tenang, penuh bahagia. Sebagaimana yang telah Allah janjikan.

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Hud (11):3).*

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Sumber:

http://hidayatullah.com/read/19817/16/11/2011/menuju-totalitas-penyucian-diri-[1].html

Benarkah Nusantara Telah Dikenal di Jaman Nabi?

Sabtu, 19 November 2011

Hidayatullah.com—Benarkan pulau Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah saw semasa hidup, serta telah dilalui dan disinggahi para pedagang dan pelaut Arab di masa itu? Pernyataan ini diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction”.

Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning. Metode ini, ungkap al-Attas, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.

Ada dua fakta yang al-Attas gunakan untuk sampai pada kesimpulan di atas.

Pertama, bukti sejarah Hikayat Raja-Raja Pasai yang di dalamnya terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat bernama Samudra, yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian hari.

Kedua, berupa terma “kāfūr” yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Kata ini berasal dari kata dasar “kafara” yang berarti menutupi. Kata “kāfūr” juga merupakan nama yang digunakan bangsa Arab untuk menyebut sebuah produk alam yang dalam Bahasa Inggris disebut camphor, atau dalam Bahasa Melayu disebut dengan kapur barus.

Masyarakat Arab menyebutnya dengan nama tersebut karena bahan produk tersebut tertutup dan tersembunyi di dalam batang pohon kapur barus/pohon karas (cinnamomum camphora) dan juga karena “menutupi” bau jenazah sebelum dikubur. Produk kapur barus yang terbaik adalah dari Fansur (Barus) sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang terletak di pantai barat Sumatra.
Dengan demikian tidak diragukan wilayah Nusantara lebih khusus lagi Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah saw dari para pedagang dan pelaut yang kembali dengan membawa produk-produk dari wilayah tersebut dan dari laporan tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar tentang tempat-tempat yang telah mereka singgahi.

Dalam acara bedah buku “Historical Fact and Fiction” yang baru-baru ini (13/11) diselenggarakan oleh Islamic Studies Forum for Indonesia (ISFI) bekerja sama dengan Persatuan Pelajar Sulawesi Selatan (PPSS) di kampus International Islamic University Malaysia (IIUM), Prof. Dr. Tatiana Denisova, dosen di Departemen Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Akademi Studi Islam di Universitas Malaya Kuala Lumpur Malaysia, mengungkapkan kesetujuannya dengan al-Attas dalam penggunaan inductive methode of reasoning dalam mengkaji sejarah.

Muslimah asal Rusia yang pandai berbahasa Melayu ini setuju dalam masalah ini berdasarkan pengalaman Denisova yang setiap hari menghadapi masalah kurangnya bahan-bahan dan kajian-kajian dalam bidang ilmu sejarah Islam di Nusantara, dan berdasarkan kenyataan konsep sejarah Islam yang tidak berasaskan pada konsep dan falsafah Islam.

Lebih lanjut, mantan staf domestik di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Rusia yang mendorong al-Attas menulis buku tersebut dan membantu al-Attas dalam menyediakan bahan-bahan tulisan untuk penulisan buku tersebut lebih lanjut menjelaskan menurutnya ada empat faktor penyebab minimnya sumber dan kajian sejarah Islam dan sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Pertama, sumber dan karya ilmiah sejarah Islam yang ditulis dalam huruf Jawi/Pego (Arab latin) oleh masyarakat Nusantara tidak begitu terkenal di kalangan ilmuwan Barat karena tidak banyak dari mereka yang pandai membaca tulisan Jawi.

Kedua, banyak sumber sejarah yang hilang atau tidak diketahui keberadaannya pada zaman penjajahan.

Ketiga, biasanya sumber-sumber sejarah yang ditulis masyarakat Nusantara dianggap oleh orientalis sebagai artifak sastra, sebagai karya dongeng atau legenda, yang hanya bisa dipelajari dari sudut filologi atau linguistik, dan tidak bisa diterima sebagai sumber sejarah yang sempurna dan benar.

Para orientalis hanya membicarakan dan menganalisa gaya bahasa dan genre, tetapi tidak memperhatikan informasi-informasi lain yang berkaitan dengan fakta sejarah berupa aktivitas ekonomi, undang-undang, aktivitas intelektual dan lain sebagainya.

Keempat, karena minimnya sumber dan kajian sejarah Islam Nusantara membuat para ilmuwan Barat hanya menggunakan sumber, kajian dan tulisan dari luar Nusantara termasuk dari Barat. Mereka tidak memperhatikan atau mungkin tidak tahu adanya bahan-bahan dan informasi yang terdapat dalam berbagai sumber sejarah Islam termasuk sumber-sumber sejarah dari wilayah Nusantara.

Dalam acara bedah buku yang dihadiri 120 orang mahasiswa dan mahasiswi IIUM yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei tersebut.

Prof. Dr. Abdul Rahman Tang, dosen pasca sarjana di Departemen Sejarah dan Peradaban, Kulliyyah of Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences di International Islamic University Malaysia, selaku pembanding menyatakan kajian sejarah Islam Nusantara yang dilakukan al-Attas dalam buku tersebut sebagian besar bersifat spekulatif.

Salah satu fakta spekulatif tersebut adalah hadits yang terdapat dalam Hikayat Raja Raja Pasai. Menurutnya, fakta-fakta tersebut bisa valid jika telah menjalani proses “verification of fact”. Namun Al-Attas tidak melakukan proses ini terhadap hadits tersebut.

Muslim China warga Malaysia ini mempertanyakan status hadits ini dan mengkhwatirkan implikasinya terhadap pemikiran masyarakat Nusantara. Menurutnya, al-Attas melakukan inductive methode of reasoning secara tidak konstruktif.

Sedang Dr. Syamsuddin Arif, dosen IIUM asal Jakarta, selaku pembicara kedua dalam acara bedah buku tersebut mengungkapkan kesimpulan al-Attas di atas logis dan sesuai dengan fakta.

Hal ini berdasarkan perjalanan pelaut dan pedagang Arab pada masa Rasulullah saw yang pergi ke China. Untuk mencapai negeri China melalui laut tak ada rute lain kecuali melalui dan singgah wilayah Nusantara.

Lebih lanjut Arif mengemukakan berbagai teori dan pendapat tentang kapan, dari mana, oleh siapa, dan untuk apa penyebaran Islam di Nusantara beserta bukti-bukti dan fakta-fakta yang digunakan untuk mendukung pendapat-pendapat tersebut.
Arif juga menjelaskan ilmuwan siapa saja yang memegang dan yang menentang pendapat-pendapat tersebut.

Di akhir makalahnya, Arif mempertanyakan pendapat J.C. Van Leur yang pertama kali menyatakan bahwa penyebaran Islam di Nusantara dimotivasi oleh kepentingan ekonomi dan politik para pelakunya.

Van Leur dalam bukunya “Indonesian Trade and Society” berpendapat, sejalan dengan melemahnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Sumatera dan khususnya di Jawa, para pedagang Muslim beserta muballigh lebih berkesempatan mendapatkan keuntungan dagang dan politik. Dia juga menyimpulan adanya hubungan saling menguntungkan antara para pedagang Muslim dan para penguasa lokal.

Pihak yang satu memberikan bantuan dan dukungan materiil, dan pihak kedua memberikan kebebasan dan perlindungan kepada pihak pertama. Menurutnya, dengan adanya konflik antara keluarga bangsawan dengan penguasa Majapahit serta ambisi sebagian dari mereka untuk berkuasa, maka islamisasi merupakan alat politik yang ampuh untuk merebut pengaruh dan menghimpun kekuataan.

“Namun, benarkah demikian? That’s a problem!”, ungkap Arif.

Suasana debat akademis di antara pembicara yang “pro dan kontra” terhadap karya al-Attas dalam acara bedah buku tersebut cukup memanas tetapi tetap mengedepankan akhlaqul karimah dan mengedepankan rasio dibanding emosi.

Begitulah semestinya debat ilmiah para ilmuwan Muslim.*/Abdullah al-Mustofapenulis peneliti ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur, Malaysia

sumber:

http://hidayatullah.com/read/19849/19/11/2011/benarkah-nusantara-telah-dikenal-di-jaman-nabi?.html

KISAH MUALAF

Posted: November 18, 2011 in HIKMAH
Tags: ,

Kisah Mualaf Australia (1): Pencarian Makna Hidup

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/11/10/lueess-kisah-mualaf-australia-4habis-jalan-hidup-yang-berubah

Kisah Mualaf Australia (4-habis): Jalan Hidup yang Berubah

Rabu, 09 November 2011 21:46 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY – Sekian puluh tahun Steven mencari tahu soal hakikat kehidupan. Baginya, dari sekian agama, hanya Islam yang memberikan jawaban yang jelas, detail dan memuaskan.

“Islam memberikan jawaban yang sekian puluh tahun kucari-cari. Itulah mengapa, tepat dua tahun lalu, aku mengucapkan dua kalimat syahadat,” ungkap Mustafa Samuel, nama baru Steven setelah memeluk Islam, seperti dikutip onislam.net, Rabu (9/11).

Steven dibesarkan dalam keluarga penganut Kristen Ortodoks Yunani. Maklum, orang tuanya merupakan imigran Yunani sebelum memutuskan untuk menetap di Australia. “Aku termasuk orang yang religius. Namun, memasuki usia dewasa banyak pertanyaan yang muncul dan gereja tidak dapat menjawabnya,” ujarnya.

Semenjak itu, Steven tidak lagi mendatangi gereja. Baginya, dogma gereja tidak cocok dengan sikap kritisnya terhadap agama. “Aku selalu mempertanyakan sesuatu termasuk soal agama,” kata dia.

Proses pencarian itu dimulai saat ia memutuskan pindah dari Sydney ke Queensland. Menurut Steven, Sydney bukanlah kota yang cocok untuknya. “Aku bekerja di sebuah bar. Di tempat ini, aku melihat langsung manusia-manusia dengan perilaku binatang,” ungkapnya.

Di Queensland, Steven segera mencari jawaban atas pertanyaanya. Ia mulai mengikuti beragam aliran Kristen. Namun, tetap saja ia tidak puas dengan jawaban mereka. Ia hanya ingin tahu mengapa dan untuk apa ia hidup di dunia.

Tak lama, tragedi 11 September 2001 terjadi, Steven yang saat itu tidak pernah mendengar tentang Islam merasa terkejut. “Apa Islam itu,” tanyanya singkat.

Kisah Mualaf Australia (2): Dua Tahun Mempelajari Alquran

Kamis, 10 November 2011 06:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY– Selama ini, Steven nyaris tidak pernah berinteraksi dengan seorang Muslim. Ia pun mengaku bingung dengan perbincangan banyak orang tentang Islam. “Aku tidak tahu mengapa seluruh dunia berniat melawan Muslim. Aku pikir Islam mungkin merupakan pihak yang benar sehingga harus disingkirkan,” kata dia.

Empat tahun berselang, Steven berkesempatan keliling dunia bersama sang pacar. Ia selanjutnya singgah di Dubai, Uni Emirat Arab. Saat itu, ia kembali berpikir tentang Islam. Sebab, selama di Australia ia belum mendapatkan informasi secuil pun tentang Islam.

Ada satu hal yang benar-benar menarik perhatiannya. Ia melihat sebuah masjid saat hendak mengunjungi museum yang tak jauh dari masjid tersebut. Steven kemudian masuk ke dalam, sembari melihat orang-orang tengah menjalani semacam ritual (shalat Jum’at).

Singkat cerita, Steven pun kembali ke Australia. Sesampainya di rumah, ia memutuskan untuk membeli mushaf Alquran terjemahan Inggris. “Aku memang lambat dalam membaca. Butuh waktu dua tahun untuk membaca Alquran,” tuturnya.

Saat membaca sampai habis, ia terkejut dengan kisah Yesus dalam Alquran. Tak kalah mengejutkan, ia juga mendapati kisah Nabi Nuh dan Nabi Musa ada dalam Alquran.

Yang paling menarik dalam temuan Steven, Islam tidak mengajarkan apa yang dilakukan ekstrimis atau teroris. “Aku kian tertarik dengan Islam. Karena itu, aku baca ulang kembali Alquran,” kenangnya.

Kisah Mualaf Australia (3): Berharap Mati Syahid

Kamis, 10 November 2011 07:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY – Tahun 2008, keyakinan Steven untuk memeluk Islam kian tinggi. Sayang, ia mengalami kesulitan untuk menemukan seorang Muslim yang dapat membimbingnya memeluk Islam.

Akhirnya, ia mendatangi sebuah masjid. “Saat itu, aku bertanya apakah masjid memiliki salinan Quran? Karena pada tahap ini aku butuh seseorang untuk membantu,” ujarnya.

Setahun kemudian, pada 2009, Steven harus kembali Sydney untuk menjahit pakaian. Saat itulah ia bertemu Samir, seorang penjahit yang beragama Islam. Ia sempat mengira Samir seorang Kristen lantaran tidak memiliki janggut.

Setelah berinteraksi dengan Samir, Steven mulai shalat. Ia hanya mengandalkan internet untuk mengunduh panduan shalat. Ia juga berhenti mengkonsumsi alkohol dan daging babi. “Aku pernah dikirimkan makananan oleh Samir. Aku bertanya padanya, apakah ini halal? Samir pun mengiyakan.”

Tak lama, Steven pun memutuskan memeluk Islam. Ia dibimbing oleh adik ipar Samir. “Akhirnya, aku menjadi seorang Muslim. Setelah ini, aku ingin mati syahid,” harapnya.

Keputusan Steven memeluk Islam disambut positif oleh keluarga. Ibunya bahkan bertanya dengan santun soal keyakinan barunya. “Ia menerima dengan terbuka terkait alasanku memeluk Islam. Sementara ayah, tidak berkomentar banyak. Baginya, kondisiku baik-baik saja sudah lebih dari cukup,” paparnya.

Namun, penolakan datang dari sejumlah kerabat dekat. Sepupunya bahkan enggan berbicara dengannya. Namun, kemantapan hati Steven membuatnya mudah untuk beradaptasi. “Aku tidak khawatir dengan apa yang dipikirkan orang. Aku hanya peduli pada Allah SWT,” tegasnya.

Kisah Mualaf Australia (4-habis): Jalan Hidup yang Berubah

Kamis, 10 November 2011 08:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY– Salah seorang sahabatnya, yang beragama Kristen, sangat mendukung langkah Steven. Menurut sang kawan, Islam dan Kristen memiliki banyak kesamaan. “Aku pikir, pengalaman ini memberikan kekuatan positif,” kata Steven.

Tak lama beradaptasi, ia mulai disiplin melaksanakan shalat lima waktu. Ia juga berpuasa. Hidupnya menjadi lebih tenang dan damai.

Steven mengakui dulunya ia seorang yang tempramental. Kini, sikap buruk itu menghilang tak membekas. Hidupnya jauh lebih tenang, emosinya terkontrol dengan baik.

Ia pun mampu menjawab setiap pertanyaan tentang Islam yang diajukan padanya. Kendati tak sedikit orang yang mengolok-olok soal identitas keislamannya, ia tetap meladeni mereka dengan sabar. “Ketika anda bertemu orang-orang yang memiliki sikap negatif terhadap Islam. Anda sebaiknya menjelaskan Islam dengan sebenar-benarnya,” ia menyarankan.

Bagi Steven, Islam tidak bertentangan dengan nilai-nilai Australia. Sebaliknya, Islam memiliki nilai-nilai yang sama dengan apa yang dilakukan masyarakat Australia. “Kita menghormati orang tua, kita juga diminta mematuhi hukum. Jelas, nilai Islam dan Australia berjalan beriringan,” katanya.

Yang membedakan, lanjut dia, adalah cara hidup diAustralia seperti minum, judi dan penekanan aspek moral yang tidak terdapat dalam Islam.

SEBELUM BERISLAM, LOPEZ CASANOVA PERNAH MENGKRISTENKAN RIBUAN ORANG DALAM SEPEKAN

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/11/15/luoqpv-sebelum-berislam-lopez-casanova-pernah-mengkristenkan-ribuan-orang-dalam-sepekan

 

Sebelum Berislam, Lopez Casanova Pernah Mengkristenkan Ribuan Orang dalam Sepekan

Selasa, 15 November 2011 11:49 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA – Melissa Lopez Casanova lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang sangat taat. Dalam keluarganya ada beberapa pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orang tuanya menginginkan agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukkan di sekolah khusus untuk mempelajari Alkitab.

Namun, Allah memberinya hidayah. Dalam perjalanan mempelajari Alkitab, Lopez malah menemukan Islam. Ia pun memeluk agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai agama terakhirnya.

“Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan yang religius yang memungkinkanku mempelajari Alkitab. Jika tidak, aku mungkin tidak mampu memahami pesan Islam,“ ujarnya.

Lopez menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan. “Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai agama dari Tuhan.“

Lalu, bagaimana perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam?

meski Lopez tumbuh dalam keluarga yang religius, di California, Amerika Serikatia bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi, juga seorang Saksi Yehuwa. “Aku tak pernah menghakimi apa yang mereka yakini dan aku pun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok agama mana pun,” ujarnya.

Menurut dia, Kristen nondenominasi seperti dirinya selalu diajarkan bahwa, “Jika kamu percaya Kristus, kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan, apa pun denominasi yang membedakan kita.“

Seiring perjalanan Lopez dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. “Aku tidak mengetahui seberapa lama Alkitab telah diubah dan dimodifikasi. Setiap golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar, sedang yang lainnya salah.”

Namun jauh di lubuk hatinya,  Lopez selalu meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan.

Ia pertama kali mendengar nama “Allah“ dari pengajarnya di sekolah Alkitab. “Orang Cina berdoa pada Buddha, dan orang Arab berdoa pada Allah.“ Saat itu, ia menyimpulkan bahwa Allah adalah nama sebuah berhala.

Kuliah di jurusan bisnis internasional membuat Lopez merasa perlu menguasai bahasa asing untuk menunjang kariernya di masa depan. Atas saran teman kuliahnya, Lopez mempelajari bahasa Arab.

“Temanku beralasan, negara mana pun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran,“ katanya.

Saat itu, pada 2006, Lopez mendengar kata “Alquran“ untuk pertama kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan besar di AS.

Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang dilakukan temanteman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.

Lopez pun mencoba berpuasa, bukan karena tertarik menjadi Muslim, melainkan semata untuk mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. “Itu pun karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama 40 hari,” katanya.

Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping compact disk (CD) yang ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, “Semua agama yang salah adalah benar menurut kitab mereka.“ Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam, agama asing yang salah di matanya.

Mengkristenkan 55 ribu orang dalam sepekan

Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.

Sepulang dari Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih banyak pengabdian pada Tuhan. “Permintaan itu dijawab-Nya dengan memberiku seorang teman Muslim,” katanya.

Ia beberapa kali mengajak teman Muslimnya ke gereja dan berpikir bahwa temannya akan terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya.

Suatu saat, temannya mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, tetapi ia menyayangkan kepercayaan jamaatnya yang memercayai Trinitas.

“Sayangnya, temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya tertawa dan meralatnya,“ kata Lopez.

Ia sempat berpikir tentang betapa fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.

Ia pun memutuskan mempelajari hal-hal mendasar tentang Islam. Lopez mulai menemukan persamaan antara Kristen dan Islam. Itu terjadi ketika ia mengetahui bahwa ternyata Yudaisme, Kristen, dan Islam berbagi kisah dan nabi serta keti ganya dapat diusut asal muasalnya ingga bertemu dalam silsilah sejarah yang sama.

“Sebenarnya, lebih banyak persamaan antara Kristen dan Islam dibanding perbedaan antara keduanya,“ kata Lopez.

Suatu hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. “Sementara, aku bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum.“
Perasaan ‘aneh’ saat mendengar ayat Alquran

Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan menggunakan mobil itu, temannya memohon izin memutar CD Alquran di mobilnya karena ia sedang mempersiapkan diri untuk shalat.

“Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya, aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya,“ kata Lopez.

Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan.

“Aku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen,” katanya.

Setelah beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya. Lopez akhirnya memutuskan untuk mengenal jauh tentang Islam. Namun, hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, “Tuhan, lebih baik aku mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari, namun jauh dari-Mu.“

Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil saat menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat adalah membuktikan pilihan yang salah. Namun, ia tiba di tujuan dengan selamat, dan mengikrarkan keislamannya di hadapan publik.

Jumat itu, 28 Agustus 2008, beberapa hari menjelang Ramadhan, Lopez memeluk Islam. “Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus ketundukan kepada Tuhan,” katanya.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Reporter: Devi Anggraini